Blog Walking di Blog Yahoo Indonesia

Pagi ini waktu buka Yahoo Messenger, disuguhi berita tentang Tifatul Sembiring yang sepertinya masih heboh pemberitaanya sampai hari ini mengenai prosesi salamannya dengan Ibu Negara Istri Barak Obama.

Berikut kutipan artikelnya yang bisa mengajak kita lebih terbuka dalam berpikir dan teguh pada prinsip 😉

Pada awalnya, saya tidak menaruh perhatian saat Tifatul Sembiring diangkat menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika. Jujur, saya memang tidak kenal siapa Tifatul, kecuali sebatas dia adalah mantan ketua PKS, dan sempat mendengar sedikit kontroversi ketika PKS memberikan penghargaan untuk 100 orang pemimpin muda nasional, alias PKS Award. Dan memang saya tidak terlalu suka mengikuti pergerakan politik di Indonesia.

Saat Tifatul terpilih menjadi Menkominfo, Jim Geovedi, teman saya yang seorang ahli keamanan sistem informasi, menyatakan keheranannya. Saya sendiri, yang masih miskin data tentang rekam jejak Tifatul, merasa masih lebih bagus karena bukanlah Roy Suryo, Ketua Kominfo Partai Demokrat pada waktu itu, yang menjadi Menkominfo.

Saat pemilu yang lalu, memang saya sebagai penduduk Jakarta melihat Partai Keadilan Sejahtera punya harapan paling tinggi untuk memperbaiki kondisi pemerintahan. Pejuang moral istilahnya. Jadilah saya memilih PKS. Maka, bisa dibilang, saya adalah konstituen dari PKS, dan juga dari Tifatul Sembiring.

Namun seiring waktu berjalan, banyak hal tidak sedap yang terbongkar yang melibatkan PKS, seperti kasus korupsi, yang membuat keyakinan saya terhadap PKS mengalami erosi. Keputusan untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat seperti menunjukkan bahwa ternyata PKS tidak ada bedanya dengan partai-partai lain, lebih mengutamakan kesempatan meraih posisi kekuasaan ketimbang memperjuangkan etika moral sistem pemerintahan.

Bagaimana dengan Tifatul sendiri? Latar belakangnya sebagai konservatif muslim terlihat nyata mempengaruhi banyak kebijakannya. Seperti melarang kerjasama bisnis perusahaan telekomunikasi dengan Israel, lalu juga mencanangkan pemblokiran konten pornografi dan konten-konten lain yang dianggap tidak layak disebarkan.

Saat Tifatul melarang kerjasama bisnis dengan Israel, saya sempat mengomentari bahwa Indonesia sebagai anggota WTO (World Trade Organization) tidak bisa sembarangan melarang perdagangan dengan Israel yang juga sama-sama anggota WTO. Komentar ini saya sampaikan melalui Twitter kepada akun Tifatul, @tifsembiring.

Lalu, apakah salah seorang konservatif muslim menduduki posisi yang banyak mengurusi masalah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi Indonesia? Bagi saya, label “konservatif muslim” hanyalah sebuah latar belakang, dan ini seharusnya tidak mempengaruhi etika profesi seorang pejabat tinggi pemerintahan. Apakah pejabatnya seorang yang sangat religius atau tidak, selama dia sanggup mengemban tugasnya dengan profesional, maka seharusnya tidak ada masalah.

Sayangnya, Tifatul seperti tidak bisa memisahkan antara etika profesionalisme dengan latar belakangnya sebagai konservatif muslim. Masih mending kalau dia memang konsisten dalam mengambil sikap.

Masalahnya adalah, dia lebih mengutamakan menjaga citra ketimbang bersikap konsisten. Misalnya, sikap anti Israelnya langsung buyar ketika perusahaan yang dicurigai berasal dari Israel itu ternyata berkantor di Amerika. Padahal, kalau mau ditelusuri lebih lanjut, pemimpin perusahaannya sendiri berasal dari Israel, dan kantor terbesarnya juga berada di Israel.

Ketika terjadi kontroversi Q Film Festival, yang memutar film-film bertema GLBT (Gay, Lesbian, Bisexual dan Transgender), Kementerian Kominfo malah membuat siaran pers yang menyebut-nyebut soal mantan Menkominfo Muhammad Nuh dan menteri Tifatul berlatar belakang sebagai ustadz sehingga tidak bisa mendukung festival itu. Walaupun belakangan diralat, bagian yang menyebut soal ustadz itu dihilangkan, sudah sangat jelas terlihat betapa kentalnya latar belakang konservatif muslim ini mempengaruhi Tifatul dalam mengambil keputusan.

Heboh paling terakhir adalah ketika beliau bersalaman dengan Michelle Obama, istri Presiden Amerika Serikat Barack Obama, saat berkunjung ke Indonesia. Tifatul dikenal tidak mau bersalaman dengan perempuan non muhrim, dan pembelaan dirinya di Twitter mulai dari menyalahkan Michelle yang menyodorkan tangannya, sampai menuduh orang-orang yang mengkritiknya sebagai iri belaka.

Dalam rekaman video, terlihat jelas bahwa beliaulah yang menyodorkan tangan dan berinisiatif menyalami Michelle. Isman H. Suryaman, teman saya yang seorang pengarang buku, berkomentar bahwa bahkan film Eat, Pray, Love masih kalah ketimbang Tifatul dalam mempopulerkan Indonesia di mata internasional.

Tahun 2014 masih 4 tahun lagi. Semoga di sisa jatah kekuasaannya, Tifatul masih bisa menyumbangkan sesuatu demi kemajuan Indonesia.

———-

Source: http://id.news.yahoo.com/yn/20101115/tpl-ketika-kursi-menteri-diduduki-konser-2a441bb.html

Komentar Anda

komentar

2 thoughts on “Blog Walking di Blog Yahoo Indonesia

  • November 20, 2010 at 7:41 am
    Permalink

    Yah, namanya juga manusia mas. banyak benar kadang juga nggak sedikit salahnya. Ya semoga tifatul sadar apa yang telah dilakukannya itu mengecewakan

    Reply
  • December 28, 2016 at 7:41 pm
    Permalink

    sedang aktif-akifnya blog walking nih, pemaparan yang luar biasa om

    Buat penggemar drama korea subtitle indonesia, thanks mimin

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *