Listrik Berau Krisis; Bukannya Demo Malah Rame-Rame Beli Genset

Sudah dua mingguan ini lampu listrik di Kabupaten Berau lagi macet mati lampu. Katanya pake giliran, tapi banyangkan mati 30 jam idupnya cuman 6 jam. Masyarakat banyak yang merasa dirugikan. Kalau malam gelap, mau tidur gerah, pake lilin takut. Begitu juga dunia usaha, semua kena imbasnya..

Cari minuman dingin?? Jangan tanya, susah banget. Ada juga harganya jadi mahal. Coba keliling di tepian Sungai Segah dan mini market, tak ada satu yang menyediakan minuman dingin. “Nggak ada yang dingin-dingin, Mas. Nggak ada yang jual es batu gara-gara mati lampu.”

Udah begini apa yang dilakukan masyarakat Berau?? Segelintir ada yang demo PLN. Sebagian lagi banyak yang pasrah aja. Malah cuek bebek aja. 😉 Bahkan bukannya ikut demo seperti beberapa hari lalu, malah pada rame-rame beli genset. Meski harga genset naik hingga 100 persen, warga tetap antusias membelinya. Para penjual genset mengakui sampai kewalahan memenuhi permintaan pembeli.

Harga 1 unit genset berkapasitas 850 watt sebelumnya dijual Rp 1,4 juta, namun kini harganya bisa mencapai Rp 2,5 juta. Bayangkan juga, salah satu toko elektronik di Tanjung Redeb, mampu menjual 50-70 unit genset sehari. Stok kami sudah habis. Sampai saat ini, sudah tecatat belasan warga memesan genset kepada kami katanya.

Memang sih sebagian besar bukan mereka yang dari kalangan rumah tangga,  tapi mayoritas pembeli  berasal dari kalangan pedagang kaki lima (PKL) dan industri kecil.  Kalau rumah tangga  membeli genset untuk bisa mencuci dan mandi karena kadang air PDAMgak ngalir kalau tidak disedot pake alkon, sementara alkon ini pake listrik untuk menyalakannya.

Yah nasib orang Berau kaya-kaya semua, jadi mau listrik mati 24 jam penuh pun gak ngaruh.. Rame-rame aja beli genset, lampu ces (charge), atau paling tidak nambah beli lampu tembok.. 😉

Komentar Anda

komentar

5 thoughts on “Listrik Berau Krisis; Bukannya Demo Malah Rame-Rame Beli Genset

  • June 4, 2009 at 10:50 am
    Permalink

    namanya juga kaltim… mati lampu dah biasa. sama parahnya di samarinda…

    Reply
  • June 8, 2009 at 11:14 pm
    Permalink

    PLN PERUSAHAAN LILIN NEGARA. Kemaren, Abis buang aer mau cebok kada bisa..Air macet. Sekarang mau ngecas hape aja susah. Berau..BENAR BENAR KACaU.

    Reply
  • June 8, 2009 at 11:18 pm
    Permalink

    Bener bro.. Mlm ini di jln Pemuda tanjung redeb ,lagi mati lampu, juga mati aer. Lengkap lah penderitaanku..

    Reply
  • June 13, 2009 at 10:11 pm
    Permalink

    penderitaan akibat mati lampu bukan hanya di rasakan rakyat nerau, kaltim atau samarinda, di daerah gwe di Medan dan sekitarnya juga, parahnya penyakit mati lampu itu seperti lampu discotik idupmati-idupmati,, seperti dikendalikan seenak udel PLN aja.. soale dari survei ke beberapa lokasi ada beberapa lokasi di Medan yang gk pernah seharipun ngerasain menderitanya mati lampu,, dimana itu keadilan,, di mana itu kemerdekaan??

    Reply
  • July 17, 2011 at 10:29 pm
    Permalink

    mas-mas jangan biasakan demo, demo itu adalah sebuah pemberontakan hati nurani jadi yang paling wajib mencegah supaya tidak ada demo itu adalah pemimpin,mau tau caranya? Ini :
    Pemimpin harus tahu isi dalam hati nurani rakyatnya.
    Mau tahu lagi apa isi di dalam hati nurani rakyat?
    isinya adalah, listrik,air,jalan,pendidikan,BBM,dan
    kepastian hukum, yang terakhir malah bukan cuma tidak demo tapi nilai tukar rupiah juga ikut naik.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *