Menjelang Pilkada Serentak 2015

6 Desember 2015 hari ini, atau 3 hari menjelang pesta demokrasi bangsa Indonesia yaitu Pilkada Serentak 2015. Sebanyak 204 daerah di Indonesia, baik provinsi maupun kabupaten akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah mereka masing-masing untuk 5 tahun ke depan. 810 pasang calon baik yang baru maju mencalonkan diri maupun pasangan (ataupun salah satu dalam pasangan) yang merupakan mantan orang nomor 1 maupun wakilnya maju bertarung untuk memperebutkan hati pemilihnya untuk dapat memimpin daerahnya masing-masing.

Khusus untuk calon incumbent atau patahana, atau pemimpin sebelumnya yang kembali maju untuk dapat dipilih kembali, cukup beragam juga fenomenanya. Ada yang di atas angin atau yakin bisa terpilih kembali, ini terlihat dari respon masyarakat atas kinerjanya selama 5 tahun sebelumnya meminpin. Bahkan yang biasa-biasa saja tapi dengan keyakinan yang kuat dengan berpijak hasil survey yang mengunggulkan mereka pun ‘pede’ untuk tetap lanjut.

Menarik memang kalau kita mengikuti proses pilkada langsung ini. Sepertinya 100% bahkan lebih energi kita terfokus ke peristiwa ini baik mulai siapa calon-calon yang akan maju, proses penjaringan calon oleh masing-masing partai pendukung, pendaftaran ke KPU, maupun sampai proses kampanye sangat menarik untuk diikuti.

Dua kubu utama yang saling bersaing biasanya turut memeriahkan proses pilkada ini. Sebut saja calon incumbent dan calon baru sebagai penantang 😉 Yang patahana biasanya mengagung-agungkan apa yang telah mereka lakukan dalam periode sebelumnya. Bukti.. bukti.. bukan janji, kira-kira seperti itu apa yang mereka sampaikan. Yang baru, tentu sebaliknya, perlu perbaikan, bahkan perlu perubahan.

Saya kira banyak contoh-contoh pemimpin yang telah berhasil membangun daerahnya, menciptakan suasana pemerintahan yang bersih, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakatnya. Ini tentu terukur dengan kepuasan dari masyarakat yang dipimpinnya, maupun bahkan dengan perhargaan-penghargaan yang mereka terima.

Tapi tidak sedikit juga calon-calon incumbent ini ketar-ketir, karena berdasarkan survey umpamanya elektabilitas mereka tidak sebanding dengan apa yang diharapkan, dan mungkin juga karena penantangnya bahkan lebih populer dari mereka.

Nah kadang dari sini kemudian berbagai upaya dilakukan untuk dapat memenangkan persaingan pilkada ini. Tim sukses yang kemudian sukses menjamin pemilihnya sampai ke TPS, bahkan sukses sebenar-benarnya tim 😉 dan tidak murah tentu.

Proses demokrasi berbiaya tinggi memang. Tidak hanya penyelenggaraannya saja yang berbiaya sangat mahal, tapi juga kemudian biaya-biaya yang dikeluarkan oleh calon umpamanya untuk menarik simpati dan memenangkan tertarungan ini.

Setidaknya semoga dengan biaya tinggi ini, pilkada kali ini dapat memunculkan pemimpin-pemimpin yang dapat menenteramkan dan mensejahterakan rakyatnya, membawa daerahnya menjadi lebih maju lagi, tentu dengan visi, misi, dan program yang jelas dan pro rakyat.

Selamat memilih, selamat mencoblos di 9 Desmber 2015, gunakan hak pilih Anda sebaik-baiknya untuk masa depan kita..

Komentar Anda

komentar