banner Saya lahir dan besar di desa Sambaliung, Berau. Panggil aja saya Fajri, anak pertama dari 3 bersaudara dari keluarga sederhana urang barrau. agaitaruna
Saat ini jg sambil online di internet, asyik dengan program pulsagram-isi pulsa langsung dari hp sendiri layaknya konter hp, dapat bonus & gabungnya gratis, dan juga menjalankan bisnis MLM Oriflame bersama istri melalui jaringan dBCN Tertarik?! Mampir ke websitenya masing2 ya..
Nov
27th

Pembentukan Karakter Perlu Teknologi Perilaku

Author: admin | 4,739 views | Files under hikmah

Hari-hari akhir ini terasa membingungkan dan kadangkala menyesakkan. Berbagai peristiwa di sekeliling kita membuat kita kehilangan orientasi. Ada keputusan pengadilan kepada Prita dalam bentuk denda sekian juta rupiah. Tetapi muncul perlawan yang halus dalam bentuk koin perduli Prita. Ada kasus ’cicak buaya’, akhirnya cicak cicak dibebaskan dari berbagai tuduhan. Terakhir ini, muncul peristiwa Gayus  pegawai direktorat pajak dengan rekening puluhan milyar.  Yang mencengangkan adalah kasus plagiat yang terjadi pada salah seorang lulusan S-3 pada lembaga pendidkan termasyhur di Indonesia.

Serombongan suporter sepakbola saling baku hantam, sampai juga merusak fasilitas publik.  Yang lebih menguatirkan, kita melihat mahasiswa antar jurusan atau fakultas, atau ada sekelompok alat negara seperti polisi dan tentara yang saling serbu. Belum lagi kita yang di Jakarta dapat mengamati berbagai gejala pengguna jalan raya yang cenderung ‘semau gue’.  Semua ini tentu mengusik pikiran dan perasaan kita, apakah yang sesungguhnya telah terjadi. Apakah ini adalah budaya kita?.  Dalam hal ini kebudayaan kita artikan sebagai kebiasaan, nilai-nilai, ‘beliefs’, pengetahuan, seni dan bahasa yang hidup di suatu masyarakat.

Kita ketahui bersama bahwa peraturan dan aturan maupun UU sudah ada, sistem dan struktur sudah ada, pihak-pihak yang bertanggung jawab juga sudah ada. Tetapi mengapa hal-hal di atas masih terjadi?. Tampaknya kita dapat mencurigai bahwa salah satu sumber utama terjadinya peristiwa-peristiwa diatas  , salah satunya adalah  masalah karakter.

Untuk itu kita perlu bersepakat tentang apakah karakter tersebut.

Memang dalam disiplin psikologi masalah karakter dibahas dalam rentang (‘range’) yang luas. Mulai dari pendapat yang mengatakan bahwa karakter sifatnya menetap tidak dapat berubah seperti layaknya intelegensi. Sampai pendapat di polar yang lain yang berpendapat bahwa karakter dapat berubah tergantung pengaruh dari interaksi seseorang dengan dunia luarnya, antara lain orang-tua, guru, paman, teman ataupun tokoh-tokoh.

Terlepas dari perdebatan di atas  kita tetap dapat mengambil jalan tengah yang dapat diterima kedua polar yaitu mengartikan karakter sebagai kekuatan karakter (‘character strength’). Sehingga karakter adalah ‘kekuatan karakter’ yang dapat  diartikan sebagai ciri-ciri positif atau”kualitas pribadi yang baik dan luhur” yang dapat meningkatkan harkat diri pribadi maupun kualitas masyarakat.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita dapat menggarap karakter yang ‘intangible dan abstract’ ini. Masalah seperti ini adalah sama dengan banyak konsep psikologi lainnya seperti motivasi, intelegensi, emosi dsb. Dalam hal ini disiplin psikologi sangat berpengalaman. Caranya adalah dengan meneliti indikator-indikator dari konsep tersebut. Seperti intelegensi, ditemukan bahwa indikatornya a.l kemampuan berhitung, kemampuan berpikir logis, kemampuan membandingkan, kemampuan melakukan analisa, kemampuan abstraksi dll. Hal-hal inilah yang kemudian diukur dan jadilah alat ukur yang sehari-hari kita sebut dengan tes IQ. Jadi yang diukur adalah indikator-indikator intelegensi sehingga kita dapat menyimpulkan tingkat intelengensinya. Jadi kata kuncinya adalah bahwa konsep-konsep tersebut dapat kita tangkap melalui perwujudan dalam perilaku yang dapat kita lihat rasakan. Oleh karena itu mengurusi masalah karakter juga dapat kita lakukan dengan menggarap perilaku.

Melalui rangkaian penjelasan singkat ini kita dapat lihat terjadi titik temu antara psikologi dan kebudayaan, yaitu pada masalah perilaku. Bila ini dapat diterima maka untuk menjawab pertanyaan di atas kita dapat mengambil pernyataan yang disampaikan oleh Skinner dalam buku klasiknya  ’Beyond Freedom and Dignity’, ….’What we need is a technology of behavior’…(hal 10).

Untuk itu kita dapat berpaling pada beberapa teknologi perilaku yang dikenal dalam psikologi

Teknologi perilaku pertama adalah apa yang juga disebut sebagai Law of Effect dari Thorndike. Prinsipnya adalah bahwa perilaku yang memperoleh konsekuensi ‘menyenangkan’ frekuensinya akan meningkat. Di sisi lain perilaku yang mendapat konsekuensi ’tidak nyaman’ akan menurun frekuensinya. Konsep atau teori Thorndike ini tidak salah, yang kita alami saat ini adalah penerapan yang salah. Contoh gamblang adalah perlakuan terhadap para suporter sepakbola di Indonesia. Jelas para suporter telah bertindak brutal, merusak fasiltas umum, juga merusak milik orang lain.

Bayangkan dengan perilaku seperti itu kepada mereka malah justru disediakan kendaraan ke stasiun kereta, dan disediakan gerbong bahkan kereta khusus untuk membawa mereka kembali kekota asalnya. Selama naik kereta disediakan nasi bungkus dan air minum. Inilah yang saya maksudkan dengan salah penerapan. Tingkah laku yang seharusnya memperoleh konkesuensi ’tidak nyaman’ justru mendapat kosekuensi yang ’menyenangkan’. Tidak mengherankan kalau perilaku merusak dan brutal akan berulang bahkan dapat lebih intens. Banyak contoh lain yang dapat kita ambil untuk membuktikan bahwa salah penerapan ini banyak terjadi disekeliling kita. Sebagai akibatnya dapat kita lihat berbagai perilaku yang tidak berkarakter bertebaran dimana-mana.

Teknologi perilaku kedua, terkait dengan konsep Bandura  tentang ’observational learning’ atau sering juga disebut dengan ’vicarious learning’. Prinsipnya adalah bahwa orang dapat memahami atau menguasai sesuatu hanya dengan melihat atau menonton tanpa harus belajar secara fisik. Yang lebih menguatirkan adalah proses pembelajaran tersebut kadangkala tidak disadari oleh sang ’peniru.’  Ini berarti kita perlu mengembangkan berbagai stimulus, baik dalam bentuk perilaku orang-orang yang menjadi panutan, tayangan, tulisan,maupun siaran yang menunjukkan berbagai kualitas pribadi yang berkarakter .

Jadi bila di masyarakat  kita sering mendengar  perlunya panutan, secara konsep psikologi ini dapat dijelaskan dengan prinsip ‘observational learning’. Di sini perlu dipikirkan bagaimana segala hal yang bersifat komunikasi massa baik media komunikasi cetak maupun elektronik, dan pihak-pihak yang terkait dalam hal ini,  dapat bersatu dan bersepakat untuk tidak terlalu sering mengekspos kejadian-kejadian yang mengarah kepada terbentuknya perilaku ’menyimpang’, karena ternyata ini dapat menular bila kita mengacu pada teknologi perilaku ini

Teknologi perilaku ketiga, adalah apa yang dikemukakan Herzberg tentang ’Two-Factor Theory’. Masing-masing adalah faktor motivasi dan faktor higienis. Jika kita memanfatkan pemikiran Herzberg maka sesungguhnya tidak perlu ada perdebatan tentang kenaikan gaji para pegawai direktorat pajak. Karena gaji sebagai faktor higienis memang perlu untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi untuk meningkatkan kinerja maka faktor motivasi perlu juga dirawat. Dalam kejadian di atas tampaknya faktor motivasi atau hal-hal yang non-material kurang dijamah dengan baik.

Teknologi perilaku keempat, adalah konsep atau teori tentang ’Helplessness’. Merasa menjadi tidak berdaya, sebuah konsep yang diintroduksikan oleh Seligman. Teknologi perilaku ini menjawab pertanyaan, mengapa para ’orang baik’ seolah-olah hilang dari peredaran. Sebagian besar orang-orang  ’baik’ telah terkungkung karena mengalami ’helpless-ness’ atau perasaan ketidak-berdayaan.  Terutama  orang-orang baik yang berada di kepolisian, kejaksaan, kehakiman, petugas pajak ataupun petugas-petugas pelayanan umum lainnya. Karena keadaan yang sangat tidak menguntungkan bagi pihak-pihak yang ‘baik’ maka akhirnya mereka mengalami ’helpless –ness’. Dengan keadaan yang demikian maka tidak heran bahwa orang-orang ‘baik’ ini menjadi tidak berdaya dan tersingkir dari arus kerja sehari-hari. Sehinga saat ini kita rasakan lebih banyak pelayanan kerja yang ‘bobrok’.

Pertanyaannya adalah apakah teknologi perilaku dapat bermanfaat secara massal dan masif. Menurut hemat kami jawabannya adalah BISA.

Sebagai contoh mutakhir adalah US Army pada musim gugur tahun 2010 ini akan menerapkan konsep dan modul yang dikembangkan oleh Seligman dan sejawatnya para tokoh psikologi positip. Program tersebut adalah untuk meningkatkan ‘resilience’ atau ketangguhan para prajuritnya. Program percobaan atau ‘pilot project’ sudah selesai, evaluasipun sudah dilakukan. Dalam hal ini bentuknya adalah pelatihan pada setiap prajurit dan juga keluarganya. Jadi pelatihan untuk meningkatkan ketangguhan selama ini yang sangat berorientasi kepada penggemblengan fisik telah diubah dengan memasukan secara  radikal pelatihan yang bersifat psikologis.

Bagaimana tidak masif kalau pelatihan ini dikenakan kepada 1.100.000 prajurit US Army, belum termasuk keluarganya.

Tantangan besar bagi kita saat ini bukanlah apakah kita menginginkan terciptanya insan-insan yang berkarakter, tapi apakah kita siap untuk bersama-sama dengan gigih dan konsisten menerapkan kaidah kaidah teknologi perilaku agar tercipta lebih banyak insan-insan yang berkarakter.

Disinilah unsur budaya sebagai hasil olah pikir dan rasa dapat menjadi sumber bantuan yang signifikan.

———–

Source: http://ikm-ui.com/?p=148

Komentar Anda

komentar

You must be logged in to post a comment.