Pilih Dipilih.. Calon Bupati Berau

Yang satu bilang bukan janji tapi bukti. Ini biasanya dibawa oleh calon incumbent alias patahana alias pejabat yang calon kembali. Bicara bukti tentu mengacu pada apa yang sudah dilakukan di masa sebelumnya, bahwa telah berhasil, telah melakukan sesuatu yang kemudian patut dipertahankan, patut terus dilanjutkan.

Tengok umpamanya Walikota Surabaya Ibu Tri Rismaharini, tak hanya dikenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan berintonasi tinggi, tapi juga karena keberhasilannya mempermak wajah Surabaya dalam lima tahun terakhir. Tidak mengherankan bila Walikota Surabaya yang kerap dipanggil Bu Risma ini diganjar sederet penghargaan, dari dalam negeri serta dunia internasional. Mulai dari masuk dalam daftar 50 pemimpin dunia terhebat versi majalah Fortune, dinobatkan sebagai Walikota Terbaik Ketiga dari World Mayor Project hingga yang terbaru meraih World Mayor Commendation for Services to The City. Gebrakan demi gebrakan telah dilakukan Bu Risma guna meningkatkan kualitas kehidupan warga Surabaya. Salah satu terobosan yang telah dilakukannya adalah memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan seluruh manajemen perkotaan serta memaksimalkan pelayanan. Tujuannya untuk mempercepat pekerjaan dan bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Bu Risma telah membuat beberapa terobosan program pelayanan secara elektronik lewat e-Musrenbang. Program ini dirancang agar warga dapat mengetahui apakah usulan pembangunan mereka diterima atau ditolak. Dalam hal pengaturan anggaran, bu risma menerapkan e-Budgeting. Dengan demikian penggunaan anggaran sangat mudah dilakukan dan diawasi lantaran tercatat secara detail lewat sistem tersebut. Selain efesiensi birokrasi, Bu Risma pun telah membenahi sistem database warganya. Data tersebut dilengkapi berbagai keterangan yang membantu pihak pemerintah Kota Surabaya mengetahui permasalahan warganya. Kemudian Bu Risma meluncurkan program e-Kios guna memudahkan warga mengurus segala perizinan. Bentuknya mirip mesin ATM. Masyarakat bila butuh layanan cukup datang ke mesin itu (e-Kios), ada tiga layanan publik yang dapat diakses, yakni e-lampid, e-health, e-pendidikan dan Surabaya Single Window (SSW). Bila ingin buat akte kelahiran, cukup masukan data ke situ (e-Kios). Tiga hari kemudian akte akan dikirim ke rumah. Jadi masyarakat nggak perlu ngurus ke mana-mana.

Atau tanya2lah mbah gogel, tengok Bpk Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi dengan Smart Kampungnya. Beliau mencanangkan konsep digital society. Sebanyak 1.500 titik WiFi disebar di hampir seluruh penjuru Banyuwangi. Bagi Banyuwangi, konsep digital society adalah kebutuhan. Dengan jarak yang jauh antar desa dan kecamatan, untuk meningkatkan pelayanan kendaraannya harus IT katanya. Kayak di Berau kan, malah lebih luas dan jauh antar kampung. Tujuannya, agar masyarakat bisa mengakses informasi dan ilmu pengetahuan, serta meningkatkan kualitas pelayanan terhadap warganya. Di bawah kepemimpinannya, terdapat lima prioritas pembangunan TIK dalam desain besar yang disebutnya smart kampung, yakni meliputi e-pemerintahan, e-kesehatan, e-pendidikan, e-logistik, dan e-pengadaan.

Lihat juga Bpk Yoyok Riyo Sudibyo, Bupati Batang Jateng membuat surat pernyataan bahwa Bupati Batang tidak meminta proyek dengan mengatasnamakan pribadi, keluarga, atau kelompok. Beliau juga membuat pakta integritas Pelaksana Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam pencegahan dan pemberantasan Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN). Ia juga mengadakan Festival Anggaran agar seluruh perencanaan anggaran bisa dipamerkan kepada masyarakat secara transparan. Beliau tidak bekerja sendirian. Ia menggandeng Transparency International Indonesia, Indonesia Corruption Watch, dan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mendorong terciptanya pemerintah yang bersih. Ia meminta seluruh jajaran birokrasi menandatangani pakta integritas tidak korupsi. Batang menjadi daerah pertama di Jawa Tengah dalam pencanangan zona integritas bebas korupsi. Sejak Yoyok menjabat, terjadi penghematan di Kabupaten Batang mencapai Rp 5-6 miliar, peningkatan pendapatan daerah Rp 14,4 miliar, dan efisiensi belanja pegawai Rp 42,4 miliar.

Lihat juga Ridwan Kamil Walikota Bandung, Bima Arya Walikota Bogor, atau bahkan Ahok Walikota Jakarta, dan mungkin banyak lagi. Sudahkan Berau seperti itu?? Apakah yg perlu dipertahankan dan dan dilanjutkan, dibuktikan??? Jauh panggang dari api. Jadi Berau perlu perubahan?? Pasti.. 100%.

Nah, yang satunya lagi kemudian bilang, .. Perubahan. Untuk berubah, harus mengerti konteks, dan substansi apa yang mau diubah. Dan tentu juga harus mengenal Berau luar dalam. Kalau tidak, maka hanya akan tinggal slogan dan yel-yel doang.. Jadi, jangan saling menyerang pihak lawan, jangan berkutat dengan kelemahan lawan, tapi silahkan adu konsep, visi dan misi, kemudian program dan kegiatan yang jelas dan tentu pro rakyat…

IMHO, unek2 urang berau si pemilih yang terdaftar di DPT Berau šŸ˜‰

Komentar Anda

komentar