banner Saya lahir dan besar di desa Sambaliung, Berau. Panggil aja saya Fajri, anak pertama dari 3 bersaudara dari keluarga sederhana urang barrau. agaitaruna
Saat ini jg sambil online di internet, asyik dengan program pulsagram-isi pulsa langsung dari hp sendiri layaknya konter hp, dapat bonus & gabungnya gratis, dan juga menjalankan bisnis MLM Oriflame bersama istri melalui jaringan dBCN Tertarik?! Mampir ke websitenya masing2 ya..
Mar
1st

Vaksin Berbahaya Dalam Imunisasi

Author: mfajrinet | 70,946 views | Files under kesehatan

Vaksin juga berbahaya lho… Semoga tidak terjadi pada anak kita. Demikian juga dengan anak saya yang baru berusia 3 bulan lebih dan saya termasuk orang tua yg berbuat terbaik buat anak saya termasuk dalam hal pemberian imunisasi ini, tapiiartikel di bawah ini menakutkan sekali karena bagaimana saya bisa tau kandungan dalam setiap imunisasi yg diberikan ke anak saya ????

Vaksin penyebab autisme?????
(dari buku “Yang orang tua harus tahu tentang vaksinasi pada anak” karangan Stephanie Cave & Deborah Mithchell, terbitan Gramedia Pustaka Utama thn. 2003) Hasil penelitian yang dituangkan dalam buku ini cukup mengerikan, vaksin yang kita berikan demi kesehatan sang anak menjadi bumerang yang dapat memberi efek negatif yang tidak diinginkan. Mudah-mudahan informasi berikut berguna terutama bagi generasi muda kita.

Ada beberapa zat kimia yang ditambahkan kedalam vaksin (vaksin sendiri adalah bakteri/virus dari penyakit yang ingin di imunisasikan) antara lain:

  • Aluminium (dalam vaksin DPT, DaPT dan Hepatitis B)
  • Benzetonium klorida – bahan pengawet (dalam vaksin anthrax)
  • Etilen glikol (dalam vaksin DaPT, polio, Hib, hepatitis B)
  • Formaldehida – cairan untuk menonaktifkan kuman, bahan penyebab kanker
  • Gelatin – pemicu alergi (dalam vaksin cacar air dan MMR)
  • Glutamat (dalam vaksin varicella)
  • Neomisin – antibiotik yang dapat menyebabkan reaksi alergi(dalam vaksin MMR dan polio)
  • Fenol (dalam vaksin tifoid) – Streptomisin – antibiotik penyebab alergi (dalam vaksin polio)
  • Timerosal – bahan pengawet yang mengandung mercury

Selain itu bakteri mati yang ada dalam vaksin itu sendiri bisa melepaskan racun ke dalam aliran darah. Jika racun ini mencapai otak, bisa terjadi masalah persarafan, termasuk autisme, kesulitan memusatkan perhatian dan masalah perilaku. Sedangkan untuk virus hidup seperti dalam vaksin polio, MMR dan cacar air, ternyata bisa menyebabkan penyakit yang seharusnya dicegahnya.

Untuk orang-orang yang memiliki riwayat auto-imun seperti rematoid arthritis, diabetes, asma dan multiple sclerosis, vaksin yang disuntikan akan menyebabkan sistem imun tubuh mereka menyerang lebih banyak dari yang seharusnya. Terutama untuk vaksin campak, tetanus dan flu. Efek sampingan suatu vaksin dapat terjadi segera setelah anak menerima suntikan, tapi juga baru terlihat setelah beberapa jam, beberapa hari atau bahkan beberapa bulan.

Berikut ini bahaya mercury yang terdapat dalam vaksin yang diberikan kepada anak-anak:

  1. Kadar mercury yang tinggi dapat menyebabkan matinya sel-sel otak, sedangkan kadar yang rendah mengakibatkan efek yang lambat yang mempengaruhi sistem imun di tingkat sel, seperti ketidakmampuan untuk mengusir flu, bronchitis, infersi jamur atau bahkan kanker.
  2. Bila vaksin diberikan kepada bayi yang belum bisa membuang mercury dengan benar, mercury akan memasuki otak dan melekat pada serebelum (otak kecil) yang mempengaruhi ketrampilan motorik termasuk penglihatan dan keseimbangan, pada hipokampus yang menyerang saraf, dan pada amygdala yang mempengaruhi fungsi emosional dan mental, termasuk sikap pemalu dan halusinasi ( gejala ini mirip dengan autisme).
  3. Pada bayi yang sedang mengalami perkembangan otak yang cepat, mercury bisa merusak sel otak secara menetap. Untuk mendeteksi kadar mercury dan logam beracun lainnya, dapat dilakukan dengan memeriksa contoh darah dan rambut. Untuk menghilangkannya, dilakukan terapi dengan pemberian DMSA (asam 2,3 dimerkaptosuksinik), dimana mercury dikeluarkan bersama urine. Pada saat detoksifikasi ini, anak dipantau fungsi ginjal dan hatinya, dan ditambahkan gizi (vit. B,A, mineral dan asam amino) ke dalam diet anak.

Gangguan autisme melibatkan otak, sistem imun dan saluran pencernaan. Berarti selain gangguan psikiatrik, hiperaktif, disleksia, masalah bicara dan bahasa, ketidak normalan sensorik, kesulitan kognisi dan perilaku yang tidak biasa, penderita autis juga memiliki masalah sistem imun yang berakibat alergi, asma dan infeksi, dan dalam saluran usus mereka ditemukan kelebihan virus, jamur dan organisme penyebab penyakit lainnya – yang menyebabkan masalah diare dan masalah penyerapan bahan gizi.

Vaksin Hepatitis B biasanya diberika segera setelah bayi lahir, padahal vaksin ini mengandung 12.5 mikogram mercury yang lebih dari 25 kali batas aman yaitu 0.1 mikogram per kg berat tubuh per hari, Lagipula vaksin ini dilanjutkan dengan dua dosis tambahan . Selain hepatitis B, bayi juga mendapat 4 dosis vaksin HIB dan 4 dosis vaksin DPT yang semuanya mengandung mercury, padahal fungsi empedu yang mengeluarkan racun dari tubuh belum berkembang pada bayi dibawah usia 4 sampai 6 bulan.

Vaksin MMR selain mengandung mercury juga mengandung virus hidup yang mungkin sekali terbawa ke saluran pencernaan dan menggandakan diri dan menyebabkan infeksi campak yang menetap. Infeksi ini menyebabkan radang dinding saluran usus dan membuat lubang-lubang kecil disitu yang menyebabkan bahan yang berbahaya dalam usus masuk kedalam aliran darah. Bahan yang berbahaya tsb adalah kasomorfin dan gluteomorfin, yang bila terbawa aliran darah ke otak, menyebabkan perilaku yang tidak normal. Dalam vaksin DPT, sel bakteri pertusis mempengaruhi anak-anak yang satu atau kedua orang tuanya memiliki cacat protein G-alfa yang diwariskan secara genetika (rabun senja, penyimpangan kelenjar paratinoid, tiroid dan pituiter), menyebabkan autisme dan penurunan penglihatan, persepsi sensorik, pemrosesan bahasa dan pemusatan perhatian.

Anak -anak ini dapat diberikan terapi vitamin A dan Urokholin. Beberapa penelitian sedang dilakukan untuk membuktikan bahwa vaksin gondong dalam MMR, vaksin Hib, vaksin Hepatitis B dan vaksin pertusis menyebabkan diabetes tipe 1 (IDDM) yang tergantung pada insulin. Penelitian lain juga sedang berlangsung untuk mengungkap peran vaksin terhadap asma dan alergi, rematoid arthritis, kelumpuhan syaraf (polio), sindroma kematian bayi mendadak (SIDS).

Dengan efek samping yang terjadi, muncul pro – kontra penggunaan vaksin, bagaimanapun kita memerlukan vaksin untuk melindungi diri dari beberapa penyakit. Beberapa solusinya antara lain: – Berikan ASI kepada bayi paing sedikit 6 bulan, supaya bayi menerima imunitas pasif dari ibunya. – Gunakan vaksin yang bebas timerosal (mercury), tunda vaksin hepatitis B hingga usia anak sekolah, kecuali bila anak berada dalam resiko tinggi.

Berikan suntikan kedua sebulan sesudah yang pertama dan suntikan ketiga paling sedikit 4 bulan setelah suntukan pertama. – Selama hamil, hindari vaksin yang mengandung mercury dan perawatan gigi yang menggunakan mercury /amalgam.

Hindari pula makanan laut selama hamil dan menyusui, minumlah air yang bebas mercury. – Ibu yang negatif HbsAg nya, bisa menunda vaksin hepatitis B untuk bayinya dari saat lahir sampai usia 6 bulan.

Bayi premature dengan ibu yang HbsAg nya negatif, bisa menunda vaksin hepatitis B sampai bayi paling sedikit mencapai 2.5 kg dan mencapai usia kandungan lengkapnya. – Bayi dengan ibu yang HbsAg nya positif, harus menerima vaksin hepatitis B pada saat lahir. – Hib dapat dimulai pada usia 4 bulan, besama dengan vaksin polio yang disuntikan (IPV), seri kedua pada usia 6 bulan, seri ketiga Hib pada usia 8 bulan, seri keempat Hib dan IPV pada usia 17 bulan dan suntikan ulangan IPV pada usia 4 atau 5 tahun.

DaPT diberikan pada usia 5 bulan, kemudian usia 7, 9 bulan dan 18 bulan, ulangannya dapat diberikan pada usia 4 atau 5 tahun. DaPT adalah vaksin DPT versi baru dimana sebagian besar racun dalam bakteri Bordetella pertusis dihilangkan.-

Vaksin cacar air tidak dianjurkan pada anak umur 1 tahun. Sebaiknya diberikan menjelang usia sekolah, sekitar umur 4-5 tahun, setelah sebelumnya dites apakah anak sudah imun terhadap virus cacar air.

Vaksin MMR sebaiknya diberikan secara terpisah dan bertahap: campak usia 15 bulan, rubella 12 bulan kemudian dan gondong 12 bulan setelah rubella. Suntikan ulangan dapat diberikan kira-kira 6 bulan sebelum sekolah, setelah sebelumnya memeriksa titer imunitas terhadap MMR.

Yang paling penting untuk diperhatikan adalah; Jangan biarkan anak menerima vaksin dalam keadaan sakit, yang ringan sekalipun. Jangan pula biarkan anak menerima vaksin untuk 6 atau lebih organisme dalam satu hari…

(dari berbagai sumber)

Komentar Anda

komentar

19 responses. Komentar Kamu?

  1. suwung
    Mar 20, 2009 at 10:14:35
    #1

    duh dulu aku divaksin ngak ya?

  2. Bima
    May 24, 2009 at 20:02:31
    #2

    Denger kabar juga sebenernya imunisasi itu haram untuk muslim karena mengandung minyak babi bener ga ya? Kalo ad yang tau kirimin artikel yg benernya dung

  3. vian
    Oct 31, 2010 at 17:04:58
    #3

    waspada terhadap imunisasi perhatikan terlebih dahulu keadaan anak sebelum di imunisasi, terutama bagi para medis, jangan jadikan anak kita sebagai bahan percobaan seperti yang dialami adik aq sekarang, otang kecilnya tidak bekerja dengan baik entah apa yang menyebabkannya seperti yang di ktakan mercury akan memasuki otak dan melekat pada serebelum (otak kecil) yang mempengaruhi ketrampilan motorik termasuk penglihatan dan keseimbangan, pada hipokampus yang menyerang saraf, dan pada amygdala yang mempengaruhi fungsi emosional dan mental, termasuk sikap pemalu dan halusinasi ( gejala ini mirip dengan autisme). tlng jangan buat anak yang tidak berdosa ini menjadi bahan percobaan.?

  4. ani
    Nov 16, 2010 at 21:47:04
    #4

    klo dah terlanjur imunisasi hepatitis B,DPT ma polio 1 dan 2 trus dihentikan masalah gak?

  5. herni
    Nov 30, 2010 at 13:57:28
    #5

    bu ijin share artikelnya ya.. makasih

  6. Eva
    Aug 19, 2011 at 23:17:22
    #6

    Ada gak pengganti vaksin yang aman untuk bayi?

  7. anne
    Sep 13, 2011 at 18:59:51
    #7

    wah??? kalo tidak usah pake imunisasi boleh ga???

  8. Yusuf
    Oct 21, 2011 at 14:28:45
    #8

    nice post, oh yeah, ga pernah ada kata sempurna dalam ciptaan manusia,, dalam KEADAAN TERTENTU vaksin malah menimbulkan efek buruk. Tulisan di atas dah menyebutkan beberapa kondisi yang harus dihindari n diperhatikan saat akan memberi vaksin, dan itu SEHARUSNYA disosialisasikan secara luas dan masyarakat pun HARUS SADAR akan pentingnya pengetahuan ini, sehingga vaksinasi bisa optimal n tepat sasaran.

    Niatnya bukan mengumbar bahwa vaksin itu berbahaya, vaksin dan imunisasi tetap BERMANFAAT DAN MEMANG DISARANKAN (bahkan beberapa diwajibkan), karena kekebalan tubuh kita ini terbatas n butuh waktu lama wat berevolusi secara alami, sedangkan lingkungan begitu cepat rusak n terpolusi, virus n bakteri ganas yg dasarnya adalah makhluk hidup sederhana pasti lebih mudah bermutasi. :) itu menurut ane.. hehehe

    (maaf ane bukan anak kedokteran ato kimia, hanya beberapa pengetahuan kimia n biologi bekal dari SMA)

  9. imam
    Oct 26, 2011 at 07:14:15
    #9

    syangnya dinkes mlah mnyruh msyarakat untuk vaksin..dan MUI mnghalalkan…bgmna prtanggungjawaban nanti..anak adalah titipan

  10. tio
    Oct 27, 2011 at 20:39:28
    #10

    kalau banyak dampak negatifnya terhadap ibu bayi dan balita,mengapa vaksin imunisasi dinegara ini masih tetap dianjurkan..?sedangkan sebagian kalangan pemerintah,MUI,DEPKES juga mengetahui akan hal ini.dan apa tindakan kita..

  11. bejo
    Oct 31, 2011 at 15:28:16
    #11

    apa persamaan vaksin,vaksinasi dan imunisasi

  12. curly
    Nov 16, 2011 at 23:00:07
    #12

    tp bukannya smua bahan2 itu jg ada d barang konsumsi yg lain, bkn cuma d vaksin aja??? trus kl produk vaksin import jg sama ga?

  13. Juriadi
    Jan 30, 2012 at 08:20:48
    #13

    ya…..semua buatan manusia itu ada keuntungan dan kerugian, tapi untuk vaksin berdasarkan penelitian banyak keuntungannya. Dapat dilihat data – data Kejadian Luar Biasa (KLB) rata-rata belum imunisasi. Pencegahan khan lebih baik dari pada kalau sudah terjadi KLB atau Wabah. Yang penting lihat dulu kondisi anak sebelum vaksinasi.

  14. souvenir gelas
    Feb 23, 2012 at 08:46:22
    #14

    weleh, kok mengerikan sekali…
    kasihan anaknya ntar kalo di imunisasi, tiba² vaksin imunisasi berbahaya.. hmm gmn coba?
    #nah lo…

    sip gan, artikelnya bagus..

  15. crystal x
    Mar 8, 2012 at 20:58:27
    #15

    Rasulullah nngajarin pake Tahnik (pake kurma saat bayi baru lahir)

  16. Ayie
    Oct 31, 2012 at 13:41:11
    #16

    Selama belum ada penemuan terbaru menyangkut efek samping dari imunisasi, maka vaksin yang sekarang beredar di Indonesia, khususnya yang selama ini kita berikan kepada anak2 kita di Posyandu saya rasa sudah cukup baik, karena vaksin tersebut di produksi di Bio Farma Bandung, …… Republik Islam Iran saja menggunakan Vaksin Produksi Bio Farma Bandung, dan sampai saat ini Cakupan Imunisasi di Iran rata2 sudah diatas 95%….. jadi saya kira tidak ada masalah lagi dengan Program Immunisasi di Indonesia

  17. NONI DINA
    Dec 23, 2012 at 17:57:06
    #17

    ITU SEMUA BOHONG LEH.

  18. ealcosshop
    Feb 25, 2013 at 20:19:24
    #18

    anakku baru lahir diimunisasi hepatitis setelah lima hari keluar cairan benjol2 melepuh badannya panas, cairan yg melepuh bertambah byk dibadannya,sampai panasnya tinggi,,sampai sekarang sy kapok imunisasi anak karena imunisasi bukannya tambah sehat menambah penyakit dlm tubuh,,alhamdulilah skrg ngak diimunisasi anak sy jarang sakit sehat perkembangannya pesat,dr anak yg diimunisasi

1 Trackback(s)

  1. May 10, 2011: Program Pendidikan Khas Integrasi (PPKI) − Vaksin penyebab Autisme?????

You must be logged in to post a comment.